Sunday, February 24, 2013

Banyak Berbuat Kebajikan

Menjadi Berlimpah



Banyak Berbuat Kebajikan



Didalam 6 jenis kelimpahan yang didefinisikan sebelumnya, kita dapat mencapainya dengan terus enerus mengkoreksi diri dengan gigih dan banyak berbuat kebajikan. Mengkoreksi diri ibarat mencabut rumput dan ilalang yang mengganggu dan mempersiapkan ladang, sedangkan banyak berbuat kebajikan berarti menabur. Taburan yang baik dan benar adalah dengan menabur saja dan berharap sang pencipta akan memberi hujan dan menumbuhkan benih benih yang kita tabur, kita tidak berharap kepada benih untuk bertumbuh, maupun menuntut tanah untuk menumbuhkan benih kita, bagian kita adalah menabur dan percaya Tuhan yang akan memberi pertumbuhan tanpa mengharapkan imbalan dari penerima taburan atau berharap dari benih yang kita tabur. Terdapat beberapa jenis kebajikan yaitu


Kebajikan yang Sebenarnya dan yang Palsu


Tentang hal menabur benih kebaikan, dapat dilakukan penjabaran lebih lanjut. Ada kebaikan yang sebenarnya, dan kebaikan yang palsu; Ada kebaikan yang tegas dan kebaikan yang berbelit-belit; Ada kebaikan yang tersembunyi dan ada yang dapat terlihat; Ada perbuatan yang terlihat seperti kebaikan, tetapi sebenarnya bukan; Ada kebaikan yang setengah-setengah dan ada yang sepenuhnya; Ada kebaikan yang besar dan ada yang kecil; Ada pula yang sulit dan yang mudah.

Setiap orang harus mendalami lebih lanjut tentang hal ini agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dikira sebagai kebaikan tetapi ternyata mempunyai akibat yang sebaliknya. Kadang-kadang ada yang berkata, “Si Anu adalah seorang yang dermawan, tetapi keturunannya tidak juga sukses. Sebaliknya orang lain yang berbuat hal-hal yang tidak baik justru keluarga dan keturunannya menjadi demikian berhasil.” Orang yang berkata seperti itu tidak benar-benar mengerti apa yang merupakan kebaikan murni dan apa yang merupakan kejahatan. Jadi penilaian tidak dapat dilakukan dengan sekedar mengamati bentuk luar saja.

Sebagai contoh adalah kebaikan yang sebenarnya atau yang palsu. Memukul dan memaki seseorang, dan mengambil kekayaan seseorang biasanya digolongkan kejahatan. Menghormati seseorang, bersikap sopan terhadap orang lain biasanya digolongkan sebagai kebaikan. Padahal perbuatan seperti ini tidak perlu digolongkan sebagai baik atau buruk, karena kita perlu mempelajari lebih lanjut untuk memahami motivasi di belakang perbuatan-perbuatan ini. Secara umum, jika suatu perbuatan menguntungkan banyak orang, memukul atau memaki dapat saja digolongkan sebagai kebaikan; Jika dilakukan untuk keuntungan pribadi, menghormati dan bersikap sopan terhadap orang lain tetap digolongkan sebagai perbuatan buruk. Semua perbuatan yang ditujukan untuk membantu/keuntungan banyak orang dapat digolongkan sebagai upah. Apa yang keluar dari dalam hati adalah kebaikan yang sebenarnya; Apabila dilakukan hanya untuk diketahui orang lain, itu adalah kebaikan yang palsu. Jika ada yang melakukan berbagai tindakan berbudi tanpa mengharapkan sesuatu, itu adalah kebaikan murni; Jika dilakukan dengan pamrih tertentu, maka itu adalah kebaikan yang palsu.


Kebaikan yang Setulus Hatidan yang Berpamrih


Tentang kebaikan yang tegas dan yang berbelit-belit, biasanya, orang yang berhati-hati dan berpembawaan tenang dianggap sebagai baik, tetapi sebenarnya para suci melihat bahwa mereka yang selalu berterus-terang adalah benar-benar baik. Walaupun berhati-hati dan lemah-lembut, belum tentu orang tersebut mempunyai semangat dan cita-cita yang berbudi-luhur. Sebaliknya orang yang berpendirian teguh, berani, dan berterus-terang merupakan sikap-sikap yang selalu dipuji oleh para bijaksana. Dalam hal ini, penilaian surga adalah sama dengan penilaian para bijaksana dan berbeda dengan penilaian awam.
Karenanya, kebajikan tidak dapat dilakukan dengan sekedar mengikuti pendapat banyak orang atau untuk menyenangkan orang lain. Ia harus muncul dari satu-satunya pemikiran untuk membantu dunia dan bukannya menyenangkan dunia. Keinginan yang sebenarnya untuk membantu orang lain adalah kebajikan yang tegas dan sebenarnya. Jika kebajikan hanya dilakukan atas dasar menyenangkan dunia atau bermain dengan dunia, maka itu menjadi kebajikan yang tidak jujur.


Kebajikan yang Tersembunyi dan yang Terlihat


Kebaikan juga dapat dibagi atas kebaikan yang tersembunyi dan yang terlihat. Jika seseorang melakukan kebaikan dan dipamerkan kepada orang lain, itu dikategorikan kebaikan yang terlihat. Jika kebaikan dilakukan tanpa keinginan untuk ditunjukkan kepada orang lain, itu menjadi kebaikan yang tidak terlihat. Kebaikan yang terlihat hanya akan menerima balasan berupa reputasi yang baik, tetapi kebaikan yang tersembunyi akan menerima balasan yang berlipat ganda dari Tuhan. Kalau reputasi seseorang melebihi nilai dirinya yang sebenarnya, maka hanya akan mengundang kesulitan besar. Ketenaran tidak dapat dianggap sebagai karunia, karena banyak orang yang mempunyai reputasi sering mempunyai ketenaran yang berlebihan, yang tidak mempunyai budi luhur yang benar untuk mendasarinya. Itulah sebabnya banyak keluarga yang terkenal mendapatkan kecelakaan. Itulah sebabnya para bijak dahulu kala menasehati bahwa adalah penting untuk tidak mempunyai ketenaran yang melebihi nilai diri yang sebenarnya. Jika ada orang yang tidak melakukan kesalahan apa pun tetapi mendapatkan cemoohan, orang yang dapat menerima hal ini dan tidak terganggu olehnya adalah orang yang berbudi. Sering keturunannya menjadi sangat berhasil. Perbedaan antara kebaikan yang terlihat dan yang tersembunyi adalah diketahui atau tidak oleh orang lain.


Perbuatan yang Hanya Terlihat Baik dan Perbuatan yang Merupakan Kebajikan Sebenarnya


Dalam berbuat baik, sering terjadi sesuatu yang terlihat baik, tetapi sebenarnya bukan merupakan kebaikan. Saat berbuat sesuatu, perbuatan yang dianggap baik sekalipun haruslah dilakukan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan akibat lainnya yang akan muncul belakangan. Janganlah hanya melihat akibatnya terhadap diri sendiri, tetapi pertimbangkan akibatnya terhadap masyarakat yang lebih besar. Jika saya melakukan sesuatu yang baik, tetapi ternyata hasil akhirnya menyakitkan orang lain, maka itu menjadi sesuatu yang keliatan baik namun sebenarnya bukan. Atau sebaliknya, jika suatu sikap atau perbuatan yang umumnya dianggap buruk, tetapi hasilnya menguntungkan orang lain, maka itu merupakan kebaikan.

Ada contoh-contoh yang lain tentang apa yang dikira baik tetapi ternyata bukan, misalnya sifat memaafkan dan toleransi yang berlebihan, memuji orang lain secara berlebihan sehingga membuat orang tersebut lupa diri, memenuhi janji kecil yang mengakibatkan kesulitan yang lebih besar kemudian ataupun memanjakan anak kecil; Semua perbuatan ini harus dipertimbangkan kembali.


Kebajikan yang Pantas dan yang Tidak Pantas


Kebaikan juga ada yang sesuai untuk dilakukan dan sebaliknya ada yang tidak sesuai untuk dilakukan. Saya akan memberikan suatu contoh. Suatu ketika, ada seorang Perdana Menteri bernama Lu. Setelah dia pensiun dan kembali ke desanya, penduduk desa tetap berlaku hormat terhadapnya. Suatu hari seorang penduduk mabuk dan berlaku tidak sopan kepadanya. Tuan Lu tidak merasa terganggu oleh hal itu. Ia menganggap bahwa itu dilakukan dalam keadaan tidak sadar. 

Lu tidak menghukum orang itu. Tahun berikutnya, orang tersebut semakin memburuk kelakuannya. Dia melakukan sesuatu yang mengakibatkan dia harus dihukum mati. Tuan Lu merasa sangat menyesal. Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Jika ketika itu saya membuatnya disiplin, maka tentu akan dapat memperbaiki kelakuannya sehingga dia tidak berlaku buruk yang membuatnya dihukum mati. Tidak seharusnya saya terlalu lunak terhadap dia.” Ini adalah contoh tentang suatu kemurahan hati dapat juga mengakibatkan sesuatu yang salah.

Saya dapat memberikan contoh yang lain tentang bagaimana perbuatan yang buruk ternyata dapat menghasilkan akibat yang baik. Suatu ketika di suatu tempat terjadi kelaparan berkepanjangan dan orang-orang menjadi bengis, dengan terbuka mengambil makanan dari orang lain. Ada seorang yang sangat kaya yang melaporkan hal ini kepada pemerintah. Sesudah beberapa saat, pemerintah belum juga memberi perhatian, sehingga orang-orang menjadi semakin berani dan semakin menghebat kelakuannya. Pada keadaan demikian, keluarga ini sendiri yang turun tangan menghukum orang-orang tersebut. Dengan cara demikian, area tersebut mempunyai sedikit kedamaian.

Setiap orang mengetahui bahwa kebaikan adalah sesuatu yang pantas dan kejahatan adalah tidak pantas. Tetapi, apabila perbuatan baik mengakibatkan keadaan memburuk, maka itu tidak pantas. Sebaliknya suatu perbuatan buruk yang mengakibatkan keadaan yang baik adalah perbuatan yang pantas.


Kebajikan yang Sepenuhnya dan yang Sepenuh hati


Hal berikut yang perlu dipahami adalah mengenai kebaikan yang setengah-setengah dan yang sepenuhnya. Jika kebaikan tidak dilakukan sepenuhnya, maka tidak akan menghasilkan keberhasilan. Kejahatan yang tidak sepenuhnya pun tidak akan mengakibatkan kehancuran total. Ini sama seperti mengisikan barang ke dalam container, jika dilakukan dengan rajin maka akan segera penuh; jika dilakukan dengan malas tidak akan segera penuh. Sebagai contoh, suatu ketika ada seorang wanita miskin yang pergi ke suatu biara untuk bersembahyang dan memberikan persembahan, dia hanya mempunyai dua keping uang, tetapi biarawan tetap keluar untuk memberkatinya. Belakangan, wanita tadi menjadi anggota keluarga istana dan membawa ribuan uang emas untuk dipersembahkan. Kali ini si biarawan hanya mengirimkan salah satu dari muridnya. Karenanya si wanita bertanya, “Sebelumnya saya pernah memberi dua keping uang, tetapi Anda secara pribadi keluar untuk memberi pemberkatan. Hari ini saya memberi ribuan uang emas, mengapa Anda tidak secara langsung memberi pemberkatan?” Si biarawan berkata, “Di masa lalu, walaupun anda hanya menyumbang sedikit, tetapi dilakukan dengan setulusnya. Kecuali jika saya melakukan pemberkatan secara langsung, maka tidak akan cukup. Hari ini walaupun anda menyumbang demikian banyak, hatimu tidak seperti yang dulu. Sehingga saya cukup mengirimkan seorang murid untuk melakukan pemberkatan.” Ini adalah contoh tentang ribuan uang emas yang hanya menjadi setengah kebaikan dan dua keping uang yang merupakan kebaikan sepenuhnya.
 Jadi, dalam berbuat baik harus dilakukan secara alami dan tulus, dan tidak membanggakannya atau mengingatnya kemudian. Dan walaupun hanya merupakan kebaikan yang kecil akan menghasilkan buah yang baik. Jika ada tujuan dalam berbuat baik, dan dalam memberi mengharapkan balasannya, maka walaupun kebaikan sudah dilakukan seumur hidup, tetap saja merupakan kebaikan yang tidak penuh.

Dalam memberi berlakulah seolah-olah tidak ada yang menerima. Dengan demikian pemberi, penerima, dan uang yang diberikan semua terjadi tidak dengan kesadaran. Pemberian seperti ini, satu sen pun sudah cukup untuk membayar karma buruk dalam ribuan tahun kehidupan, dan memberi semangkuk nasi pun merupakan kebaikan yang tidak terbatas. Jika seseorang dalam memberi tidak melupakannya atau mengharapkan balasan atau merasa menyesal dan sakit hati terhadap pemberian yang sudah dilakukan, maka walaupun sudah memberikan sepuluh ribu keping emas pun akan tetap merupakan kebaikan yang setengah-setengah.


Kebajikan yang Besar dan yang Kecil, yang Sulit dan yang Mudah


Jadi, suatu perbuatan yang berpengaruh terhadap sepuluh ribu orang, walaupun perbuatannya kecil, membawa akibat yang besar sekali. Sebaliknya, jika perhatian hanya diberikan kepada satu orang saja, dan kebaikannya juga hanya berpengaruh pada satu orang saja, maka walaupun perbuatannya besar, akibat keseluruhannya kecil.

Kebajikan yang sulit dan mudah juga berbeda. Kebajikan yang dilakukan dalam kondisi yang sulit merupakan kebajikan yang lebih berharga.Tetap menjalankan kebajikan pada saat diri sendiri sedang dalam kesulitan, tanpa mempunyai uang dan kekuasaan merupakan rejeki yang lebih besar. Jika memiliki uang dan kekuasaan, maka kesempatan untuk berbuat baik dan mengumpulkan rejeki adalah sangat mudah. Tetapi, jika tetap tidak dilakukan, maka sia-sialah orang tersebut. Seperti ada suatu pepatah yang mengatakan, “Jika ada orang kaya raya yang menolak untuk berbuat baik, orang tersebut seperti babi gemuk.”


10 Metoda untuk Menjalankan Kebajikan


Kita sudah membicarakan dasar-dasar dan pemahaman tentang berbuat baik. Sekarang kita akan berbicara tentang berbuat baik. Sekarang kita akan berbicara tentang membantu orang melalui metoda yang lain.

1. Memberi kemudahan kepada orang lain
2. Memperlakukan orang lain dengan penuh hormat dan kasih sayang
3. Membantu kehendak untuk berbuat kebaikan
4. Mendorong orang untuk berbuat baik
5. Menolong orang yang sedang dalam kesulitan
6. Mendukung gotong royong dan pekerjaan umum
7. Melepaskan keterikatan pada kekayaan
8. Melindungi dan mendukung pengajaran spiritual
9. Menghormati orang yang lebih tua
10. Melindungi kehidupan makhluk-makhluk hidup.

Tentang yang pertama, memberi kemudahan kepada orang, kita dapat mencontoh salah satu Kaisar Cina yang pertama, Shun, sewaktu muda ia suatu ketika menyaksikan orang yang sedang menangkap ikan di propinsi Shandong. Dia mengamati bahwa tempat yang banyak ikannya, pada bagian yang dalam airnya selalu dikuasai oleh nelayan yang lebih muda dan nelayan tua yang lebih lemah kebagian tempat yang berarus deras, sehingga dia menjadi perhatian. Akhirnya dia memutuskan untuk ukut menangkap ikan, dan setiap kali dia bertemu dengan nelayan yang datang, menuntut dan mengambil tempatnya, dia akan merelakan tempatnya tanpa berkata sepatah kata pun. Dan jika bertemu dengan orang yang memberi kesempatan kepadanya untuk menangkap ikan, maka segera ia akan mengucapkan terima kasih. Beberapa waktu kemudian, dia telah berhasil menciptakan suasana saling menghormati dan memberi. Walaupun Shun dapat melakukan perubahan dengan kemampuan untuk mengajar melalui kata-kata, tetapi dia menggunakan dirinya sendiri sebagai contoh untuk mengubah suasana. Karenanya, dalam sikap hidup adalah penting untuk tidak menggunakan kebaikan diri sendiri untuk memojokkan kelemahan orang lain. Jangan pergunakan kecerdasan untuk mempermainkan orang lain. Selalulah hidup dalam kerendahan hati. Jika melihat kekurangan orang lain, bersifatlah penuh toleransi. Jika melihat orang melakukan kebaikan, sekalipun kecil, pujilah mereka. Hal ini secara tidak langsung akan menjadi pelajaran bagi mereka yang berbuat tidak baik. Dengan demikian orang yang bersalah tidak akan merasa dipermalukan sehingga mereka akan mempunyai kesempatan untuk berubah. Jadi dalam memberi kemudahan kepada orang lain, selalulah berpikir tentang kesejahteraan keseluruhan dan perlindungan pada kebenaran.

Hati yang penuh hormat dan kasih sayang terhadap orang lain tidak dapat sekedar dilihat dari perbuatan, tetapi harus dilihat dari motivasi. Ada suatu pepatah yang mengatakan bahwa perbedaan antara seorang satria dan yang bukan adalah pada pemikirannya. Seorang satria yang sebenarnya, memperlakukan orang dengan penuh hormat dan kasih sayang, tanpa memilih dan tanpa mengharapkan balasan dari perbuatannya. Beras yang sama menghidupi ratusan jenis manusia yang berbeda. Walaupun setiap manusia adalah berbeda, berbeda dalam kedudukan, berbeda dalam kepintaran, tetapi semuanya adalah manusia. Jadi semuanya harus diperlakukan dengan penuh hormat. Memperlakukan seorang manusia biasa sama seperti memperlakukan para suci. Memperlakukan semua orang dengan penuh hormat dan kasih sayang harus dimulai dengan menyelami diri orang lain, secara kejiwaan dan intelektual.

Umumnya, dalam masyarakat hanya terdapat sedikit saja satria yang memperjuangkan kebaikan, sementara itu lebih banyak yang bagi diri sendiri. Ditambah lagi dengan sikap manusia yang selalu membela pendapat/kebiasaan yang sepaham dan menolak yang tidak. Seorang satria harus memiliki determinasi dan keberanian yang sangat kuat. Seorang satria sering mempunyai ucapan dan perbuatan yang berlainan dengan masyarakat pada umumnya. Mereka sangat jujur dan sering bertindak tanpa perhitungan. Mereka mengabaikan cara untuk membangun citra dirinya untuk dapat diterima anggapan umum. Jadi, orang yang tidak bijaksana sering mengkritik dan memojokkan orang-orang baik tersebut, sehingga mereka tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kebaikannya. Adalah penting untuk mendukung mereka yang satria, yang mempunyai hati yang baik. Janganlah membuang mereka seperti sebongkah batu, tetapi asahlah mereka menjadi sebutir permata. Jika melihat orang yang sedang berbuat baik, dukunglah mereka untuk mencapai kehendaknya.

Kebiasaan yang baik sulit dibina, tetapi begitu terbina akan menjadi sahabat selama-lamanya karena ia selalu mudah diatur. Sebaliknya kebiasaan buruk mudah terjadi dan sekali terbiasa akan menjadi musuh untuk selama-lamanya, karena ia selalu mau mengatur. Sebenarnya setiap orang mempunyai kesadaran yang sempurna, tetapi karena kehidupan yang menyesatkan, tarikan dari ketenaran dan kekayaan, seringkali orang menjadi tenggelam dalam keduniawian. Dalam berhubungan dengan orang lain, selalulah memberi semangat untuk berbuat baik. Pepatah mengatakan: “Untuk menyadarkan orang sekali, gunakanlah mulut. Untuk menyadarkan orang selama ratusan generasi, tulislah buku.”

Kehidupan sering dipenuhi oleh musibah dan ketidakberuntungan. Pada saat menemui orang lain dalam kesulitan, rasakan kesulitan tersebut seperti jika kita sendiri yang menghadapinya. Tanpa banyak perhitungan, segeralah berikan bantuan kepada mereka yang dalam kesulitan. Mulut dapat dipergunakan untuk memberikan kenyamanan kepada orang lain, berbagai metoda lain dapat juga digunakan.

Banyak pekerjaan yang bermanfaat untuk orang ramai, misalnya pembangunan jalan, jembatan, gedung sekolah ataupun tempat ibadah. Pekalah terhadap keadaan di sekitar kita dan dukunglah pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Memberi adalah juga melepas keterikatan. Semakin baik pembinaan diri seseorang, semakin mudah pula ia memberikan apa saja yang dimiliki tanpa banyak pertanyaan. Tentu saja, tidak mudah untuk mencapai tingkatan seperti ini. Kekayaan sering dilihat sebagai lebih penting daripada kehidupan, jadi sebagai langkah pertama untuk melepaskan keterikatan pada seluruh permasalahan keduniawian adalah dengan merelakan apa yang paling sulit untuk diberikan, yaitu uang. Memberi kepada orang yang dalam kekurangan mempunyai banyak kebaikan. Secara internal, memberi akan mengurangi sifat egois dan kikir. Secara eksternal, pemberian dapat membantu orang keluar dari kesulitan dan pada akhirnya menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan spiritual. Pada mulanya memberi mungkin dirasakan sebagai paksaan, tetapi segera ia akan menjadi kebiasaan. Memberi juga akan menutupi dan menjauhkan diri dari kekurangan-kekurangan lainnya.

Menghormati orang yang lebih tua adalah menghormati orang tua, kakak, pimpinan, dan terutama kepada orang yang berbudi dan bijaksana. Dalam menghadapi orang tua harus dilakukan dengan ramah dan penuh hormat, dan dalam bekerja pada masyarakat tidak boleh berkelakuan buruk, walaupun dalam area yang tidak terjangkau oleh hukum. Dalam menghukum tahanan sangat penting untuk tidak berlebihan.

Mengenai perlindungan terhadap makhluk hidup, ada pepatah kuno yang mengatakan: “Untuk melindungi tikus, sejumlah beras disisakan untuk tikus. Untuk melindungi ngengat lampu tidak dinyalakan.” Tentu saja ini adalah hal yang sulit dipraktekkan oleh kebanyakan orang, tetapi pepatah ini sebenarnya mengingatkan kita untuk jangan bertindak semena-mena. 

Orang dahulu kala memasak kepompong untuk mendapatkan sutranya sebagai bahan pakaian, dan 
dalam bercocok tanam kita juga terbantu oleh serangga. Jadi, adalah penting juga untuk tidak menyia-nyiakan makanan dan pakaian, yang pada akhirnya juga berarti sudah memberikan perhatian kepada makhluk hidup. Dalam kehidupan perlu juga dikembangkan sikap yang berhati-hati agar tidak menyakiti orang lain yang lebih lemah, termasuk makhluk-makhluk lain yang lebih kecil.

Metoda untuk mengumpulkan kebaikan sangat banyak dan tidak dapat dijelaskan sepenuhnya, tetapi jika dapat segera dimulai dengan kesepuluh metoda ini, pasti akan menjadi permulaan yang baik.Tetapi jika kita masih bingung dengan apa yang dijabarkan diatas, semua tersebut dirangkum dalam satu kalimat
Barangsiapa banyak memberi berkat (memberkati) diberi kelimpahan, barangsiapa memberi minum, ia diberi minum.

No comments:

Post a Comment